Jalan Kebahagiaan

Jalan Kebahagiaan
Oleh: Pdt. Dharma Mitra (Peter Lim)

 


“Diantara semua Jalan, Jalan Mulia Berfaktor Delapan adalah yang terbaik. Diantara semua Kebenaran, Empat Kebenaarn Mulia ada-lah yang Terbaik Diantara semua keadaan, Kebebasan dari Nafsu adalah yang Terbaik. Diantara makhluk berkaki dua dan makhluk nirbentuk, Sang Buddha yang maha tahu adalah yang Terluhur”
Magga Vagga XX : 273.

Dengan perasaan yang hancur berkeping keping, Santi (bukan nama yang sesungguhnya) meninggalkan halaman sekolah setelah membaca pengumuman, yang menyatakan bahwa dirinya tinggal kelas. Santi sangat menyesali atas keteledoran dan kesalahan jalan, yang telah ditempuh selama proses belajar berlangsung. Boleh dikatakan bahwa selama satu tahun penuh, Santi lebih menprioritaskan kegiatan hura-huranya, dari pada menekuni bidang studi yang diajarkan. Belajar baginya hanya berlaku disaat-saat menjelang ujian, itu pun asal ngulang saja. Boleh juga dikatakan bahwa selama ujian berlangsung, Santi lebih banyak memohon belas kasihan dari teman-temannya, daripada usahanya sendiri. Akhirnya setelah pembagian raport bulanan atau caturwulan, nampaklah angka angka yang memprihatinkan pada bermunculan. Setelah semuanya terjadi, apakah masih ada manfaatnya untuk disesali..? Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, hidupnya terlena dengan pergaulan yang tak tentu rimbanya. Nasehat dari guru dianggap sebagai omelan yang tidak bermakna.

Di sisi yang lain, terlihat si Madia (juga bukan nama yang sebenarnya) dengan langkahnya yang lesu, meninggalkan perusahaan tempat dia berkerja. Telah hampir 15 tahun lamanya, dia bekerja diperusahaan tersebut. Kepergiannya dari perusahaan tersebut adalah karena dipecat atas ketidak jujurannya, terhadap konsumen. Sebenarnya si Madia memiliki potensi, untuk meraih karir yang gemilang tapi sungguh di sayangkan, jalan yang ditempuh, tidaklah sesuai dengan jalur yang telah ditentukan. Dalam memenuhi ambisinya yang meluap luap, Si Madia telah menempuh jalur (jalan) yang salah. Sebagai duta perusahaan, seharusnya dia memberikan data yang akurat dan benar, mengenai manfaat dari produk yang ditawarkan, tapi dia malahan berbuat yang sebaliknya, sehingga banyak konsumen yang merasa tertipu serta kecewa. Setelah diketahui oleh pihak pimpinan, akhirnya diputuskan bahwa si Madia harus sesegera mungkin dipecat, jika tidak maka perusahaan akan mengalami kerugiaan, akibat dari ketidak percayaan konsumen, akan produk yang ditawarkan. Ambisi sich boleh saja tapi jangan sampai menyusahkan orang lain, demikian ditegaskan oleh pihak pimpinan, kepada karyawan yang lainnya. Selanjutnya, disudut suatu warung, terlihat seorang pria setengah baya, yang berusia kira kira 50 tahun, dengan pandangan mata yang kosong, nampak berkomat kamit seorang diri, tanpa memperdulikan tatapan orang orang di sekitarnya. Pria setengah baya tersebut, sebelumnya adalah seorang pejabat yang cukup terhormat tetapi karena keserakahan nya serta menghalalkan segala macam cara, akhirnya dipecat oleh atasannya. Dan masih banyak lagi dijumpai, seseorang mengalami penderitaan, yang jalan yang bisa dijadikan pedoman. Didalam kitab suci Bojjhanga sutta, Sang Buddha menyabdakan bahwa ke 7 jalan ini, akan dapat melindungi diri kita dari jurang derita dan pasti menuntun ke pantai bahagia.

Ketujuh jalan tersebut adalah :

  1. Sati (perhatian benar)

    Di dalam mengawali pikiran, tutur kata maupun perbuatan jasmani, hendaknya dimiliki perhatian yang baik, agar tidak menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain. Sati dalam hal ini, lebih ditekankan pada sila (moral) yang baik, didalam setiap derap langkah yang akan dilalui. Begitu kita mengawali suatu perbuatan, baik melalui pikiran, tutur kata maupun tindakan badan jasmani, renungkanlah terlebih dahulu ,akan dampaknya jika atau setelah dilaksanakan. Renungkanlah terlebih dahulu kemungkinan yang bakal timbul, jika unsur kebahagiaan yang lebih dominan muncul maka sudah seyogianya dilanjutkan, tetapi jika sebaliknya yang terjadi, maka sudah sepantasnya dihentikan sedini mungkin. Orang yang telah memiliki Sati, tidak akan menyesali perbuatan yang telah diperbuat dan malahan bangga serta puas, akibat/hasil dari perbuatannya, karena selain tidak berdampak negatif tetapi malahan menimbulkan kebahagiaan. Orang yang telah memiliki Sati, tidak akan mau melakukan perbuatan tercela demi pemuasaan ambisinya. Di manapun dia berada, akan selalu dipuji dan disanjung, atas kemuliaan “sila : moral” atau tingkah lakunya. “Apetacittena na sam-bhajeyya : Janganlah tinggal dan makan bersama dengan orang yang tidak mempunyai PERHATIAN” demikianlah yang telah disabdakan oleh Sang Buddha.

  2. DHAMMAVICAYA (Meneliti dan Menyelidiki Kebenaran).

    Buddha Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha, bukanlah untuk dipercaya begitu saja tetapi terlebih haruslah diteliti dan diselidiki kebenarannya. Sang Buddha selama 45 tahun membabarkan ajaran NYA , tidak pernah menyatakan sekalipun, bahwa ajaran NYA lah yang terbenar, dibandingkan ajaran yang lain. Beliau selalu menekankan akan pentingnya, untuk meneliti dan menyelidiki terlebih dahulu, sebelum suatu ajaran dijadikan pedoman hidup, agar dikemudian hari tidak enimbulkan kefanatikan, kemunafikan atau ketidak toleransian. Buddha Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha, juga mengundang untuk dianalisa dan diteliti akan kebenarannya. Salah satu cara agar terhindari dari kefanatikan, kemunafikan dan ketidak toleransian adalah dengan dimilikinya Ehipassiko yang berarti mengundang untuk datang, melihat dan membuktikan kebenarannya. Buddha Dharma bukanlah untuk dipercaya begitu saja. Janganlah begitu mudah mempercayai sesuatu, hanya dikarenakan penampilan luar semata mata. Dengan adanya Ehipassiko kita diminta (dituntut) untuk menyelami dan mengamalkannya terlebih dahulu, sebelum diterima sebagai suatu pegangan hidup (kepercayaan). Dengan dimilikinya Ehipassiko maka yang namanya kebijaksanaan dan keyakinan akan bisa diraih. Kebijaksanaan dan keyakinan merupakan pondasi dasar bagi diri kita, agar terhindar dari kemelekatan pandangan, yang menyatakan bahwa ajaran agama yang dianut olehnya adalah yang terbaik. Kefanatikan adalah hal yang ditabukan didalam agama Buddha dan juga merupakan salah salah satu belenggu bathin, yg sudah seyogianya dibabat sedini mungkin. Bebas dari belenggu bathin (kemelekatan), itulah kebahagiaan yg hakiki.

  3. VIRIYA ( Semangat ).

    Ibarat pepatah yang mengatakan “Usia sih boleh saja tua tapi semangat haruslah tetap muda” adalah salah satu perenungan yang sangat baik, untuk dicamkan di dalam kehidupan ini. Pada umumnya semangat akan luntur, dikala tertimpa kegagalan atau kemalangan. Seseorang yang mengalami patah semangat, dikala tertimpah musibah (kemalangan), tidak akan pernah meraih kesuksesan ataupun kebahagiaan. Seorang siswa yang gagal meraih nilai terbaik dan tidak memiliki semangat untuk memperbaikinya, maka akan gagal selamanya. Seorang salesman yang gagal mempromosikan produknya dan tidak bersemangat untuk mengulanginya lagi, maka sampai kapanpun, tidak akan berhasil meraih, apa yang diharapkan. Seorang yang patah hati “broken heart” karena ditinggali oleh kekasih yang tidak setia dan tidak memiliki semangat untuk bangkit kembali, akan meratapi ketidak adilan yang berlaku pada dirinya. Hidupnya akan terbengkalai dan menjadi sia-sia. Inilah ciri khas orang yg benar benar bodoh. Jadi semangat sangatlah penting di dalam hidup ini Semangat itu bisa diibaratkan bagaikan api, yang menghangatkan suasana, agar tidak menjadi kaku dan monoton. Ciri khas orang yang sukses dan bahagia adalah selalu semangat di dalam setiap derap langkah yang akan dilalui, apakah berada dalam kondisi yang menyenangkan (berhasil) atau menyedihkan (gagal), dia tidak akan pernah mundur. Dia senantiasa kreatif, inovatif dan mampu memotivasi diri.

  4. PITI (Kegiuaran / Kegembiraan).

    Didalam sabda Nya, Sang Buddha menekankan : “Nabbhatitaharo soko – Nanagatasu khavaho : KESEDIHAN tidak dapat mengembalikan apa yang telah berlalu KESEDIHAN tidaklah mungkin dapat membawa KEBAHAGIAAN pada masa depan”. Dari sabda ini, Sang Buddha menekankan akan arti betapa pentingnya, memikirkan hidup untuk saat ini dan janganlah memikirkan apa yang telah berlalu atau apa yang terjadi. Masa lalu bukanlah untuk dikenang atau disesalkan dan masa mendatang bukan pula untuk diketahui atau diresapi. Apa yang diperbuat saat ini, itulah yang menentukan corak kelahiran dimasa mendatang. Apa yang telah diperbuat masa lalu adalah apa yang dirasakan saat ini. Oleh karena itu, perbuatlah kebajikan sedini mungkin (disaat ini) dan sebanyak – banyaknya, agar terbebas dari jeratan derita dan meraih kebahagiaan yang sejati. Nikmatilah hidup ini dengan penuh kegembiraan, dengan sejumlah timbunan perbuatan perbuatan terpuji. Janganlah mengkhawatiri masa depan atau terlalu menyesali apa yang telah terjadi. “Sukham vatatassa na hoti kinci : Sungguh BERBAHAGIA orang yang tidak mempunyai sesuatu yang DIKHAWATIRKAN” , demikian yang sabdakan oleh Sang Buddha.

  5. PASSADHI (Jasmani Dan Bathin Relax)

    Waktu yang diprogram (diciptakaan) hanya berfungsi untuk mempermudah kita, mengatur dan mempersiapkan, apa yang akan dikerjakan disaat ini dan mendatang. Tetapi kebanyakan dari kita, diperbudak oleh waktu dan untuk makan saja, adakalanya tidak ada waktu yang memadai, disamping itu juga sering lupa akan istirahat, tidur dan segalanya, hanya dikarenakan untuk memenuhi ambisi duniawi. Manusia yang dibelenggu oleh waktu, akan lebih banyak mengalami kekecewaan dan frustasi daripada kepuasan bathin (kegembiraan). Jasmani dan bathin yang dimanfaatkan tanpa adanya waktu untuk relax, akan menimbulkan beragam penyakit dan ganguan mental. Ibarat mesin yang dimanfaatkan terus-menerus, pasti akan mengalami proses kehancuran lebih dini, dari yang diperkirakan, demikian juga halnya dengan badan jasmani dan bathin yang lemah ini. Oleh karena itu, untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah dengan dimilikinya kesehatan jasmani dan bathin. Beristirahatlah di kala istirahat dan bekerjalah di kala bekerja, itulah ciri khas orang yang bijaksana.

  6. SAMADHI ( Konsentrasi ).

    Di dalam “Hasta ariya magga: Delapan jalan utama”, samma samadhi (konsentrasi benar) adalah salah satu syarat mutlak, untuk terbebas dari liang derita. Orang yang memiliki konsentrasi benar, tidak akan terpengaruh, untuk mau melakukan tindakan-tindakan tercela. Seseorang bisa terjurumus ke perbuatan yang ternista, misalnya: mencuri, merampok, membunuh ataupun memfitnah, tidaklah terlepas daripada piki-annya yang tidak terbina dengan baik. Hanya orang-orang yang memiliki konsentrasi pikiran yang baiklah, akan berpikir dua kali, sebelum mengawali suatu perbuatan yg tidak baik. “Cittam dantam sukhavaham: PIKIRAN yang telah terlatih memberikan KEBAHAGIAAN”. Demikian yang disabdakan oleh Sang Buddha. Pikiran yang terlatih dalam hal suatu permasalahan. Ini adalah pikiran yang terkonsentrasi dengan baik, bebas dari niat jahat dan penuh dengan cinta kasih.

  7. UPEKKHA (Keseimbangan Bathin).

    Di dalam Karaniya Metata Sutta, Sang Buddha bersabda: “Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya, melindungi anaknya yang tunggal. Demikianlah hendaknya terhadap semua makhluk dipancarkan pikiran kasih sayang tanpa batas”. Apakah dia orang tua kita, suami/istri tercinta, anak-anak terkasihi ,sahabat-sahabat yang baik atau musuh jika salah haruslah diberi sanksi. Sikap Upekkha ini menuntut kita untuk bersikap seadil-adilnya di dalam memutuskan suatu permasalahan. Yang salah dalam penyelesaian satu masalah dan begitu juga ketika berbuat baik. diberikan sanksi dan yang benar diberikan pujian/hadiah. Janganlah terdapat unsur diskriminasi, disaat menyelesaikan suatu masalah. Dikala berdana (beramal), berikanlah suatu dana (derma) tanpa melihat penampilan luar semata-mata, apakah beda agama, suku, bangsa maupun aliran, hendaknya diperlakukan dengan seadil-adilnya.


KESIMPULAN:

Sang Buddha menyabdakan bahwa bahagia tidaknya seseorang, bukanlah ditentukan oleh pihak lain tetapi diri sedirilah, sumber utamanya. Agar hidup ini bebas dari derita dan penuh dengan kebahagian maka berpedomanlah selalu kepada ajaran Sang Buddha. Pedoman tersebut, antara lain adalah dengan selalu memil-ki perhatian benar, ulet meneliti dan menyelidiki serta mengamalkan Dharma, semangat di saat menimbun kebajikan, gembira dikala berbuat baik, mampu mengatur waktu dengan baik (jasmani dan bathin senantiasa relax), memiliki konsentrasi pikiran yang baik dan bathin selalu seimbang dikala menyelesaikan suatu perma-salahan, tanpa pilih kasih serta bertindak seadil-adilnya. Semoga dengan dimilikinya pedoman ini, kehadiran kita disaat yg tepat ini, dapatlah sebagai motivasi awal bagi kebahagiaan semua makhluk.

Sabbe satta sabbe dukkha pamuccantu. Sabbe satta bhavantu sukkhitata : Semoga semuanya senantiasa terbebaskan dari derita dan semoga semuanya selalu bahagia..Sadhu..Sadhu..Sadhu….

 

Pencarian Populer :

  • buddha kebahagiaan suci
  • kebahagiaan hati
  • budha suci kebahagiaan
  • kebahagiaan dalam agama buddha
  • budha kebahagiaan suci
  • kebahagiaan suci budha
  • budha kebahagian suci
  • budha kebahagiaan
  • kebahagiaan menurut agama buddha
  • buddha kebahagiaan
  • nama budha kebahagiaan
  • kebahagian suci budha
  • nama buddha kebahagiaan suci surga
  • perhatian benar
  • budha suci kebahagian
  • nama buddha kebahagiaan
  • nama surga buddha
  • motivasi agama buddha
  • buddha suci kebahagiaan syurga
  • Istilah kebahagiaan umat budha
  • budda kebahagian
  • istilah kebahagian suci surga buddha
  • clue: buddha kebahagiaan suci
  • motifasi agama buddha
  • suci kebahagiaan surga buddha
  • kebahagian suci surga buddha
  • nama budha kebahagian
  • istilah kebahagiaan dalam buddha
  • sakit hati dalam buddha
  • tempat suci budha kebahagian

Artikel yang Berhubungan

  • Tidak ada artikel lain

Leave a Reply

Facebook Update

Photo Gallery

Log in | Designed by Gabfire themes