Buku Buddhis 8: Caring For Our Generations

Caring For Our Generations
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI
BAB VII
BAB VIII
BAB IX
BAB X
BAB XI
Pendahuluan
Memberikan Contoh Yang Baik
Menyampaikan Cerita Budhis Pada Anak
Menerangkan Dhamma Dengan Cara Sederhana
Karakter Anak
Kegiatan-kegiatan Spiritual
Kekebalan Terhadap Ajaran Non Buddhis & Materialisme
Toleransi Yang Seharusnya
Renungan Pagi
Persembahan Dan Renungan Sebelum Makan
Renungan Sebelum Tidur

Pendahuluan
Eko:”Wah, pusing nih, besok kalau gue meninggal kayaknya kagak disembahyangi nih, habis pegang hio, pasang foto gue dibilangin sama anak tidak boleh”
Sue: “Bukan loe aja, kalau bini gua beli banyak buah-buahan buat sembahyang, anak gue kagak ada satupun yang mau makan, katanya nggak boleh karena bekas sembahyang. Jadi daripada mesti buang, akhirnya beli seadanya saja”
Sugi:”Itu mah belum parah, yang parah tuh kalau gue lagi sembahyang leluhur dibilangin lagi sembah berhala, entar bisa jatuh ke Neraka”
Contoh pembicaraan diatas adalah cuplikan yang tidak jarang kita dengar saat kita melayat ke rumah duka. Apakah hanya sebatas itu yang Anda harapkan dari anak Anda? Apakah Anda takut tidak ada yang menyembahyangkan sesudah Anda meninggal, atau sekadar ingin dia hanya ikut pasang-pasang hio, dan sebagainya.
Tidak demikian tentunya! Sesungguhnya yang kita inginkan adalah agar anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti, pintar, bermoral, mempunyai ketahanan yang baik dalam menghadapi segala jenis masalah hidup, dan sebagainya. Aspek spiritual adalah aspek yang sangat mendasar dan paling penting dalam kehidupan baik bagi Anda maupun anak anda.
Masalah yang diungkapkan di atas, jika diartikan secara lebih khusus adalah, “Bagaimana orangtua Buddhis dapat mengajarkan ajaran Buddha dengan baik kepada anak-anaknya?” Pada kenyataaannya, aspek ini hampir terabaikan begitu saja. Bandingkan dengan para orangtua dari non-Buddhis, yang sejak kecil anaknya sudah dibaptis ataupun dipermandikan menjadi pengikut agama yang telah diyakini oleh orangtuanya. Orangtua Buddhis cenderung bersifat acuh tak acuh, dan dengan argumen bahwa biarlah kelak anaknya bisa memilih agamanya sendiri, yang penting semua agama sama, mengajarkan kebaikan. Apakah benar demikian?
Buklet ini diterbitkan untuk dapat dijadikan sebagai bahan perenungan bagi para orangtua Buddhis, yang sebagian besar dikutip dari “Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Pada Anak” yang pernah dimuat di Majalah Dhammacakka, dimana sebahagian isinya merupakan saduran dari buku How To Teach Buddhism to Children”, Bodhi Leaves No.B.9. 1961, BPS, Sri Lanka (edisi ke-2, tahun 1975), karangan Dr. Helmuth Klar.Dari tahun penerbitan, dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya masalah ini telah lama menjadi topik yang begitu diperhatikan oleh para bhikkhu dan para pengikut Buddhisme di Srilangka maupun di dunia Barat.
Dalam makalahnya, Dr. Helmuth Klar berbagi pengalaman praktik dengan anaknya sendiri dan juga dengan anak-anak Barat lainnya, karena beliau tidak ingin berteori saja. Namun banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari pengalamannya tersebut.
Jika kita berada di negara Buddhis, di tengah-tengah tradisi Buddhis yang telah berabad-abad lamanya, posisi seorang anak Buddhis jauh lebih mudah. Namun tidak demikian dengan di Indonesia, di mana Buddhis merupakan minoritas dan dikelilingi oleh berbagai agama lain, sehingga dapatlah dimengerti peran orangtua merupakan faktor yang terpenting dalam menanamkan keyakinan pada anaknya.
Dan perlu disadari penanaman keyakinan pada anak kita secara otomatis akan berkaitan dengan cara hidup yang benar. Tanamkan keyakinan pada anak Anda sejak kecil mengenai kebesaran dan keagungan Sang Buddha.
Adalah suatu ide yang sangat penting, bila sejak kecil anak-anak harus dilatih untuk yakin akan keagungan dan kemuliaan Sang Buddha. Penggunaan patung ataupun gambar Sang Buddha adalah suatu ide yang bagus untuk mengajarkan anak kita memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, sebagai guru yang agung untuk manusia. Jelaskan bahwa penggunaan patung Buddha ini sebagai objek konsentrasi dan penghormatan, bukanlah penyembahan berhala seperti yang sering diajarkan oleh para pendidik agama non-Buddhis yang mengharuskan anak kita mengikuti pelajaran agamanya di sekolah yang berada dalam naungan suatu agama tertentu. Penggunaan patung Buddha sebagai objek penghormatan ini menjadi lebih efektif untuk mengingatkan kita kepada Sang Guru Agung dibandingkan simbol-simbol lain. Ibarat seorang anak yang menyimpan foto orangtuanya akan memudahkan dia untuk mengingat sifat-sifat luhur orangtua dibandingkan dengan barang-barang yang langsung pernah diberikan kepadanya.
Dapat pula dijelaskan kepada anak-anak bahwa objek-objek konsentrasi dan penghormatan ini tidak hanya digunakan oleh agama Buddha, tetapi semua agama di dunia menggunakan objek yang berbeda-beda. Agama Hindu menggunakan patung, agama Katolik menggunakan patung dan salib, Agama Kristen menggunakan Salib, dan lain sebagainya.
Demikian juga halnya penghormatan terhadap anggota Sangha (bhikkhu/bhiksuni) dengan bersujud ataupun bernamaskara. Perlu dijelaskan bahwa itu merupakan cara penghormatan yang tidak lain seperti penghormatan pada tradisi-tradisi lain, dan bukanlah menyembah orangnya.
Aspek filsafat dari Buddhisme yang cenderung terlalu dalam untuk dimengerti anak-anak dapat dituangkan dalam upacara-upacara sederhana yang lebih praktis untuk anak-anak. Latihlah anak-anak untuk melakukan upacara-upacara sederhana seperti persembahan air, dupa, lilin, ataupun bunga di altar di depan patung/gambar Sang Buddha. Bahkan perlu juga dijelaskan secara sederhana arti dari persembahan-persembahan tersebut. Dengan demikian akan mengembangkan kebiasaan menghormati dan merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha sejak kecil.
Mengembangkan welas-asih anak Anda sejak kecil juga penting, karena selain dapat meningkatkan kepedulian  terhadap mereka yang kurang beruntung, juga dapat membuat anak-anak lebih menghargai segala sesuatu yang mereka miliki sekarang. Untuk itu, ajaklah anak Anda untuk melakukan Meditasi Cinta Kasih setiap malam menjelang waktu tidur mereka. Panduan lebih jelasnya dapat dibaca pada buklet ‘Seeding The Heart – Lovingkindness Meditation With Children’  karya Gregory Kramel yang kami publikasikan secara gratis beberapa waktu lalu.

Memberikan visudhi kepada anak juga merupakan suatu hal yang sangat baik untuk mempertebal keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.


Memberikan Contoh Yang Baik
Cara penanaman keyakinan sesungguhnya sangat tergantung pada usia anak-anak kita, namun satu hal yang pasti dan paling penting adalah bila orangtuanya hidup sesuai Dhamma. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak cenderung akan mengikuti apa yang dilihat dan didengarnya saat itu juga.
Penanaman keyakinan kepada anak sangatlah tergantung pada seberapa besar orangtuanya merealisasikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhana, orangtua (ayah dan ibu) yang tidak berbakti kepada orangtuanya (nenek dan kakek), akan menyebabkan anak-anaknya cenderung akan meniru sifat orangtuanya dan akan mengakibatkan penanaman sifat tidak berbakti dari sang anak kepada orangtua, yang sangat bertentangan dengan Dhamma.

Anda harus merealisasikan Dhamma dan tidak sekadar pembicaraan saja untuk dapat membuat diri Anda hidup dengan cara benar sehingga membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, khususnya keluarga. Dengan cara itu berarti Anda telah memberikan contoh yang baik kepada anak Anda.


Menyampaikan Cerita cerita Buddhis Pada Anak
Anak-anak umumnya suka dengan berbagai macam cerita, adalah suatu usaha yang baik, di mana orangtua Buddhis dapat menyisakan waktu sedikit, apakah setiap hari, dua hari sekali ataupun seminggu sekali, membacakan cerita-cerita Buddhis yang ringan, sesuai dengan usia anaknya, sehingga secara bertahap menanamkan keyakinan pada Buddha Dhamma lewat intisari cerita-cerita tersebut. Dapatlah diambil contoh, cerita-cerita Buddhis seperti Jataka, kisah asal usul syair Dhammapada (Dhammapada Atthakata), Petavatthu (cerita kisah peta), Vimanavatthu (cerita kisah dewa/dewi), kehidupan Pangeran Siddhattha hingga mencapai Buddha, kehidupan sosial selama kehidupan Sang Buddha, dan masih banyak lagi.
Karena secara psikologi anak-anak, mereka akan lebih mudah mengerti dan melekat di pikiran lewat cerita-cerita daripada diberikan suatu motto yang ‘wah’ sekalipun. Dalam cerita-cerita sederhana yang umumnya menggambarkan orang jahat akan mengalami penderitaan dan orang yang baik ataupun berhati mulia akan mendapatkan kebahagiaan, secara sadar anak-anak kita akan berusaha menghindari perbuatan yang tidak terpuji di kemudian hari.

Anda juga dapat memperdengarkan cerita-cerita Buddhis lewat kaset, VCD, dan sebagainya, yang sudah banyak tersedia di bursa-bursa vihara yang biasanya anda kunjungi.


Menerangkan Dhamma Dengan Cara Sederhana
Tumbuhkanlah semangat Dhamma pada anak-anak sejak kecil, misalnya dengan mengajarkan ajaran dasar Buddhisme.
Ajarkanlah dan tunjukkan Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), dan Mudita (simpati) yang merupakan komponen penting dalam Buddhisme kepada anak sejak dini.
Latihlah anak Anda dengan lima sila dasar (tidak melakukan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak melakukan ucapan yang tidak benar, dan tidak meminum-minuman keras yang melemahkan kesadaran) dan apa yang harus dilakukan oleh seorang umat Buddha dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh umat Buddha.
Ajarkanlah dengan sederhana apa yang dimaksud dan mengapa harus melatih sila-sila tersebut dengan cara yang sederhana dan jangan dengan filsafat-filsafat yang kelihatannya hanya akan dimengerti oleh orang orang dewasa. Dapatlah diambil contoh, pelatihan untuk tidak berbohong, berikanlah penjelasan singkat mengapa tidak baik, beritahu anak Anda bahwa jika berbohong, dapat menyebabkan orang lain tidak akan mau percaya lagi apapun yang diucapkan lain kali.
Memperkenalkan syair-syair yang mudah, seperti bait-bait Dhammapada juga akan menambah wawasan anak-anak. Misalkan untuk mengembangkan sifat tidak membenci, bagi anak-anak dapatlah diterangkan syair Dhammapada 5 (Yamaka Vagga – Syair berpasangan):
“Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, Inilah hukum abadi.”
Perlu juga adanya persiapan referensi buku-buku Dhamma yang cocok untuk anak, misalkan buku ‘Ketika Anak Bertanya’ karangan Dhamma K.Widya, ‘Sang Buddha Pelindungku’ seri I sampai VI, terbitan Sangha Thervada Indonesia, dan banyak lagi buku lain yang dapat Anda peroleh di vihara-vihara sekitar Anda.

Selain itu anak-anak mempunyai kecenderungan yang tinggi terhadap musik/lagu, oleh karena itu orangtua dapat memperdengarkan lagu-lagu Buddhis kepada anak-anak sejak dini. Saat ini sudah banyak sekali lagu-lagu Buddhis untuk anak-anak yang dapat dibeli di bursa-bursa vihara maupun toko-toko Buddhis.


Karakter Anak
Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para raja, pengemis, tuan tanah, petani, prajurit, pedagang, budak, filsuf, dan sebagainya. Beliau mengerti sepenuhnya karakter dari setiap orang yang berbeda, dan menyampaikan Dhamma yang mudah dimengerti dan dipahami dengan cara-cara yang disesuaikan dengan karakter masing-masing. Dengan cara yang sama kita harus berusaha mempelajari dan memahami karakter anak-anak kita agar kita dapat mengajarkan Dhamma pada mereka dengan cara paling efektif. Misalkan anak suka menggambar, berikan buku menggambar dan mewarnai tentang kisah-kisah Buddhis. Dan orangtua dapat menjelaskan arti-arti dari gambar tersebut secara sederhana.

Kegiatan-kegiatan Spiritual
Anak-anak perlu diajak untuk selalu mengikuti peringatan-peringatan keagamaan, seperti menghadiri hari raya Waisak, Asadha, Kathina, Magha Puja, maupun hari-hari Uposatha, supaya merasa senang dan puas. Mengunjungi vihara-vihara di dalam maupun di luar kota bisa merupakan alternatif lainnya. Anak-anak perlu juga diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah bernuansa Buddhis, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan kalau mampu dapat mengunjungi tanah suci kelahiran Pangeran Siddharta (Lumbini), tempat direalisasikannya Penerangan Sempurna (Bodhgaya), tempat Maha parinibbana (Kusinara), ataupun negara-negara Buddhis lainnya.
Jika usia anak sudah cukup, perlu memotivasi mereka untuk ikut serta dalam kegiatan bakti sosial ke rumah jompo, panti asuhan, kerja bakti di vihara, dan lain-lain. Mengunjungi sanak famili dan juga para bhikkhu adalah hal yang sangat dianjurkan untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap suatu hubungan. Mengunjungi para bhikkhu dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk menambah keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Jika ada liburan sekolah, dapat juga melakukan dharmawisata ke desa-desa yang cenderung masih lebih alamiah, dan menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mengembangkan cinta kasih terhadap sesama manusia maupun binatang. Bagaikan seorang pramuka yang baik, ajarkanlah untuk menolong wanita tua untuk membawa keranjang atau mendorong kereta dorong, dan sebagainya. Ajarkan untuk membawa seekor ikan yang hampir mati karena kurang air ke dalam kolam yang airnya cukup.


Kekebalan Terhadap Ajaran Non Buddhis Dan Materialisme
Orangtua harus memberikan perhatian dengan penuh kewaspadaan agar anak-anak tidak ditarik ke dalam jaring ‘ajaran lain’ dan juga materialisme, sehingga dapat membuat pikirannya terbuka pada pancaran sinar Dhamma.
Perlu disadari, khususnya di Indonesia, agama Buddha merupakan agama minoritas dan di kelilingi oleh agama-agama ‘non-Buddhis’ dengan fasilitas dan sarana yang jauh di atas agama Buddha. Contoh paling sederhana penjaringan terjadi melalui beberapa sekolah bermutu yang dikelola oleh lembaga dari suatu ‘agama’ tertentu, sehingga banyak sekali anak-anak yang orangtuanya Buddhis menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut. Memang tidak wajib untuk menyekolahkan anak kita di sekolah-sekolah Buddhis, tetapi itu sangat disarankan karena dapat menuntun anak kita pada jalan kebenaran/Dhamma. Bila tidak, setidaknya usahakan untuk menyekolahkan anak Anda di sekolah-sekolah yang menyediakan mata pelajaran agama Buddha sehingga dapat menghindari anak kita dari pengaruh ajaran agama non-Buddhis. Kita harus benar-benar memperhatikan perkembangan anak kita, sehingga tetap berpegang pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Mengingat kondisi-kondisi lingkungan yang dijelaskan di atas, adalah sangat perlu untuk menjelaskan perbandingan-perbandingan antara agama Buddha dengan agama-agama lain kepada anak kita. Kita harus menunjukkan keistimewaan ajaran Buddha dibandingkan dengan yang lain, sehingga membuat anak-anak kita kebal terhadap pengaruh-pengaruh luar, termasuk materialisme. Salah satu buku yang sangat disarankan untuk di baca berjudul Beyond Belief, karya AL. De. Silva.
Di samping itu, saat anak-anak kita menanjak dewasa dan terutama selama masa remaja yang romantis, ada beberapa ritual yang menarik perhatian mereka, khususnya melalui musik, lagu, panduan suara, dan lain sebagainya. Untuk mencegah anak kita tertarik ke suatu ajaran non-Buddhis hanya karena musik semata-mata, dianjurkan supaya anak-anak sejak dini dikenalkan dengan musik, terutama yang bernuansa Buddhis, untuk mencegah mereka tergiur dengan mendengar lagu-lagu non-Buddhis.
Satu hal penting yang harus ditanamkan terus pada anak-anak kita adalah tanggung jawab diri sendiri. Misalnya setiap malam, ketika anak-anak lain berdoa, anak-anak Buddhis harus melewatkan waktu sedikit dengan meditasi dan merenungkan hal-hal yang telah dilakukannya. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka belum berpikir, bicara dan bertindak sesuai ajaran Buddha, maka mereka harus berusaha untuk mengerti bagaimana menghindari kesalahan itu di lain waktu. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka tidak dapat menghindari pikiran ataupun perbuatan buruk, maka orangtua harus membantu mereka, sehingga dapat pergi tidur dengan tekad untuk berbuat yang lebih baik pada esok harinya. Di pagi hari mereka dapat memulai hari yang baru dengan merenungkan kembali tekad mereka. Dengan cara ini, anak-anak akan mampu mengembangkan kekuatan dari pikiran mereka sendiri, sambil memurnikan pikiran dengan menanamkan kebaikan atau ketrampilan berpikir, berkata dan bertindak. Demikian juga jika anak-anak non-Buddhis melakukan doa sebelum makan, anak-anak Buddhis dapat diajarkan Doa Persembahan Sebelum Makan dan  merenungkan fakta bahwa makanan yang mereka makan adalah berfungsi untuk kesehatan fisik dan mental, bukan untuk berpoya-poya atau bersenang-senang. Untuk membantu Anda, Renungan Pagi Hari, Persembahan dan Renungan Sebelum Makan serta Renungan Sebelum Tidur kami lampirkan pada bagian belakang buklet ini.
Hukum Karma akan menunjukkan kepada anak-anak kita lebih jelas dibandingkan dengan janji-janji indah yang didogmakan oleh ajaran tertentu. Anak-anak kita akan dituntun untuk melihat hukum sebab-akibat, ibarat biji pepaya akan tumbuh jadi buah pepaya dan tidak akan menjadi buah semangka, penebar kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan sedangkan penebar kejahatan akan mendapatkan penderitaan.

Tanggung jawab diri sendiri yang ditanamkan dengan baik akan membentuk dan mengembangkan kualitas batin anak kita, sehingga akan membentuk dan memperkuat benteng alamiah terhadap agama kepercayaan lain di satu sisi dan menghindari penyalahgunaan filsafat mengenai materialisme di sisi lain.


Toleransi Yang Seharusnya
Apabila anak anda sudah terjaring oleh ajaran non-Buddhis, maka dalam hal ini anda sebagai orangtua Buddhis harus bersikap tegas. Selagi usia anak kita masih dini dimana ketergantungan terhadap orangtua masih tinggi, maka kesempatan untuk menanamkan kembali keyakinan akan Buddha Dhamma terhadap anak masih terbuka lebar.
Bila ada kegiatan-kegiatan spiritual non-Buddhis yang dipraktekkan oleh anak anda, usahakan secepatnya untuk memintanya meninggalkan hal itu, tentunya dengan menjelaskan alasan-alasan yang masuk akal dari sudut pandang agama Buddha. Misalnya, sewaktu anda melarang anak anda berdoa sebelum makan sebagaimana yang diajarkan oleh ajaran non-Buddhis, cobalah untuk menjelaskan bahwa makanan yang tersedia diatas meja adalah berkat usaha anda selaku orangtua, yang mana bekerja keras mengumpulkan nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bukan makhluk lain sebagaimana yang diajarkan oleh agama non-Buddhis.
Anda selaku orangtua juga harus memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Cobalah untuk mengunjungi kamar anak anda secara rutin baik di pagi hari setelah bangun maupun sesaat menjelang waktu tidur, karena biasanya waktu-waktu ini digunakan oleh anak-anak untuk berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh agama non-Buddhis. Hal ini dapat membantu anda untuk memastikan agar anak anda tidak terus melakukan kegiatan spiritual non-Buddhis tersebut.
Selain itu, cobalah untuk mencari sumber-sumber dari manakah anak anda mendapat pengaruh agama non-Buddhis tersebut. Usahakan sebisanya untuk menjauhi mereka dari anak anda. Bila tidak, anda selaku orangtua anak juga berhak untuk langsung mengutarakan keberatan anda kepada orang tersebut dan memintanya untuk tidak mengulangi hal yang sama. Anda selaku orangtua dari anak anda tidak perlu sungkan, atau tidak enak hati untuk melakukan hal yang satu ini karena apabila anda berdiam diri, biasanya mereka akan terus memperkuat pengaruh ajaran non-Buddhis pada anak anda dengan harapan untuk mempengaruhi seluruh keluarga anda.
Mengikutsertakan anak-anak anda pada Sekolah Minggu Buddhis atau Gelanggang Anak-Anak Buddhis setiap hari Minggu di vihara-vihara terdekat juga merupakan satu langkah yang bagus. Di sana, selain dapat bermain dengan teman-teman sebaya yang seiman, anak anda juga dapat mengenal banyak hal mengenai ajaran agama Buddha, melalui pelajaran keagamaan, cerita, drama, tarian dan nyanyian.
Yang terakhir, apabila setelah larang-larangan yang diberikan berulang-ulang tidak juga diindahkan anak anda, maka anda dapat mencoba untuk memberikan sedikit hukuman yang anda anggap dapat membantu . Misalnya, walaupun telah diminta untuk dihentikan, tetapi anak anda terus berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh ajaran non-Buddhis, anda dapat menghukumnya dengan makan berdiri, atau tidak memberinya lauk dan memintanya berdoa untuk mendapatkan lauk tersebut. Hukuman-hukuman yang tepat seperti Ini diharapkan dapat membuat mereka sadar bahwa hal itu tidak benar dan sejak usia dini mereka mulai dilatih untuk belajar bertanggung-jawab atas diri mereka sendiri. Adakalanya hukuman singkat yang edukatif diperlukan untuk mendatangkan kebahagiaan yang berkelanjutan, dalam hal ini kebahagiaan hidup berkeluarga tentunya.
Apabila anda masih menemui kesulitan-kesulitan dalam hal ini, cobalah untuk meminta nasehat dan masukan dari para anggota Sangha. Niscaya pedoman Dhamma yang diberikan para pelaksana Dhamma Vinaya ini dapat memberikan ‘pencerahan’ bagi keluarga anda.
Dengan uraian singkat di atas, semoga setiap orangtua Buddhis bisa terbuka dan mau melihat betapa pentingnya dan berharganya ‘pendidikan melalui keluarga’ terhadap anak-anak kita. Orangtua mempunyai peranan yang sangat penting bagaimana diri sang anak dibentuk.
Semoga kita tidak lagi mendengar pendapat: ‘Anak kami dapat memilih agamanya nanti, tepat seperti yang kita lakukan, dan kita tidak mempunyai hak untuk menentukannya.’
Kami yakin benar bahwa anda sebagai orangtua, pasti sudah pernah mencari kesana kemari dalam kurun waktu yang cukup lama dan akhirnya menemukan bahwa agama Buddha adalah yang paling bagus ataupun cocok buat anda, mengapa anda masih saja ingin membiarkan anak anda mencari sendiri, menghabiskan waktu mudanya yang begitu berharga seperti yang anda lakukan sebelumnya? Karena setelah ajaran-ajaran dogma ataupun materialisme telah bekerja, dan anak-anak kita telah kehilangan dan tidak lagi mempunyai kebebasan intelektual. Kita telah kalah ‘start’, di mana anak-anak sudah didogma sejak masuk sekolah dan hampir setiap hari dilakukan penanaman kepercayaan lain secara bertahap, sedangkan kita tidak melakukan apa-apa, apakah itu masih ‘adil’ bagi anak Anda?
Di dalam misi penyebaran Dhamma, Sang Buddha bersabda kepada enam puluh Arahat: “Khotbahkanlah Dhamma yang mulia pada awal, mulia pada pertengahan, mulia pada akhir. Umum-kanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar suci dan sempurna dalam ungkapan dan dalam hakekatnya, demi keselamatan dan kesejahteraan semua makhluk”.
Mengapa anda yang sudah mengenal Dhamma tidak anda sebarkan dan ajarkan kepada anak, yang pasti merupakan orang yang paling anda sayang? Membiarkan anak anda memilih agamanya tanpa dibimbing mengenai Buddha Dhamma adalah bagaikan melepaskan anak buta di hutan yang berbahaya tanpa diberi perlengkapan apapun, salah-salah bisa tertusuk duri, dimakan binatang buas, masuk jurang ,dsb.
Ingatlah, bahwa dari segala jenis pemberian baik materi maupun non-materi, pemberian Dhamma adalah pemberian yang paling berharga, bagaimana anda sebagai orangtua Buddhis bertanggung jawab karena kelalaian memberikan hadiah ini kepada anak anda?

Renungan Pagi
Namo Sakyamuni Buddhaya ( 3 X )
Puja kepada Sang Buddha Sakyamuni karena semoga saya diberi dukungan untuk menjalankan tugas-tugas saya hari ini dengan baik. Semoga apa yang akan saya lakukan hari ini mendatangkan kemudahan dan kebahagiaan bagi orang lain dan diri sendiri.
Semoga semua makhluk dimana pun berada, baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan, yang berbentuk maupun tidak berbentuk, yang kuat maupun yang lemah, semuanya hidup bahagia.
Semoga negara kita selalu jaya dan pemerintahan berjalan dengan baik. Semoga cahaya Sang Buddha semakin cemerlang dan Roda Dhamma selalu berputar.
Semoga papa dan mama, kakak dan adik serta anggota keluarga yang lain hidup berbahagia, dihindarkan dari kesedihan, kemarahan dan penderitaan.
Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..

Persembahan Dan Renungan Sebelum Makan
Puja Kepada Buddha
Puja Kepada Sangha
Puja Kepada Semua Makhluk
Namo Amitabha Buddha

Semoga Buddha Dhamma memberikan dukungan kepada saya melalui kekuatan yang diperoleh dari makanan yang saya konsumsi secukupnya, bagaikan obat untuk badan jasmani ini. Semoga dengan kekuatan ini saya dapat mengumpulkan kebajikan dengan melakukan kebaikan dan memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi orang lain maupun diri sendiri.

Sadhu.. Sadhu… Sadhu..
[Renungan: Makanan bagaikan obat mengandung arti bahwa kita seharusnya makan secukupnya, tidak boleh berlebihan seperti halnya kita makan obat hanya untuk menghilangkan rasa sakit / menyembuhkan penyakit kita]

Renungan Sebelum Tidur
Namo Sakyamuni Buddhaya ( 3 X )
Puja kepada Sang Buddha Sakyamuni, terima kasih atas dukungan yang telah diberikan sehingga saya dapat menjalani hari ini dengan cukup baik dibandingkan dengan teman-teman yang menderita.
Saya sadar bahwa hari ini saya masih melakukan kesalahan-kesalahan yang mendatangkan kesusahan atau penderitaan bagi orang lain, semoga besok pagi saya bangun dengan semangat Dhamma yang baru, sehingga dapat memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi orang lain dan diri sendiri.
Semoga dengan kebajikan yang telah diperbuat, saya dihindarkan dari mimpi-mimpi buruk atau seram. Semoga dengan kebajikan itu pula saya diberi mimpi yang indah, dan tidur yang pulas, sehingga besok dapat bangun dengan badan yang segar dan wajah yang berseri-seri.
Sadhu… Sadhu… Sadhu..

Pencarian Populer :

  • cerita budhis
  • permainan sekolah minggu buddhis
  • kegiatan keagamaan buddha
  • doa sebelum tidur agama buddha
  • renungan bijak singkat minggu
  • buku dhamma
  • doa ulang tahun dalam budhis
  • lirik lagu kami semua adalah siswa sekolah minggu buddhis Anak anak sekolah minggu buddhis harapan negara
  • kegiatan kegiatan agama budha
  • kegiatan agama buddha
  • kata bijak beda agamA katolik budha
  • jual buku simple confucianism
  • apa bacaan doa tidur agama buddha
  • Lagu buddhis duka seorang bunda mp3 download
  • Lirik doa - doa agama buddha
  • lirik lagu budhis doa mama papa
  • materi sekolah minggu buddhis
  • Mau dowlod game budhis yang gabi
  • permainan anak sekolah minggu buddha
  • hukum sebab akibat buku ehipassiko
  • games sekolah minggu buddhis
  • berdoa beda agama
  • buku tulisan syair berpasangan khusus
  • contoh doa buddha sebelum bekerja
  • doa buddha untuk anak-anak
  • doa makan umat buddha dari ehipassiko
  • doa malam dalam agama buddha
  • doa pagi orang budha
  • doa sebelum makan agama buddha
  • doa sebelum makan budha

Artikel yang Berhubungan

  • Tidak ada artikel lain

Leave a Reply

Facebook Update

Photo Gallery

Log in | Designed by Gabfire themes